Apa Doa Buka Puasa?

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Apa kabar pembaca setia blog SMP Ar Rayyan Luwuk,

semoga semakin bertambah ilmunya, bermanfaat dan bisa diamalkan, kali ini kita akan mempelajari tata cara berbuka puasa sesuai petunjuk Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam.

Nah, sebelum kita lanjut membahas tentang adab-adab berbuka puasa sesuai sunnah, kita liat dulu hadist tentang keutamaan berbuka puasa, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ


“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terdzolimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7/194)

berdasarkan hadist di atas, diantara keutamaan berbuka puasa adalah termasuk orang yang doanya tidak ditolak, jadi buat teman-teman yang punya harapan, mimpi, keinginan, bisa digunakan waktu berdoanya saat berbuka puasa.

Dan apa lafaz saat mau berbuka puasa?

Nah dalam sebuah hadist yang datangnya dari Sahabat yang mulia yang bernama Ibnu Umar Radhiallaahu'anhumaa, Rasulullah Shallallahu'alaihhi Wasallam ketika buka puasa membaca do'a ini:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ


“Dzahabadh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)” (HR. Abu Daud no. 2357. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Terus, bagaimana status doa buka puasa yang dikenal selama ini?


اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ


“Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)”

Lafaz diatas adalah sebuah Riwayat yang oleh dikeluarkan oleh Abu Daud dalam sunannya no. 2358, dari Mu’adz bin Zuhroh. Mu’adz ini adalah seorang tabi’in. makanya hadits ini mursal (di atas tabi’in terputus). Nah, sementara Hadits mursal merupakan hadits dho’if disebabkan oleh jalur sanadnya terputus. Seorang ulama hadist yang terkenal abad ini bernama Syaikh Al Albani pun mengungkapkan pendapatnya tentang lafadz doa tersebut bahwasanya hadits ini dho’if. (Lihat Irwaul Gholil, 4/38).

Sementara ulama lainnya yang juga menganggap lemah (dhif) hadist tersebut adalam Al Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyah (Bisa dilihat referensinya di Zaadul Ma'ad, 2/45)

Nanti teman-teman bisa simpulkan sendiri, sesuai dengan penjelasan tersebut,

kalo ada yang ingin ditanyakan atau menyanggah silahkan ditulis dikolom kkomnetar yang tersedia.

Selamat menunaikan ibadah puasa....







Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selama Ramadhan, SMPIT Ar Rayyan Utus Santri Ceramah Tarwih

Ada Bonus Berkah Dalam Sahurmu